Tampilkan postingan dengan label mendidik anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mendidik anak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Februari 2010

Psikologi Balita


Ada dua tahap dalam perkembangan anak yang sulit bagi banyak orangtua: yang pertama adalah masa balita, dan yang kedua adalah masa remaja. Kedua tahap ini sangat mirip. Dalam setiap tahap, sebuah kekuatan hidup muncul yang mendorong anak untuk menjauh dari orang tuanya. Tujuannya adalah kemerdekaan-remaja ingin berhenti menjadi anak, sedangkan anak ingin berhenti menjadi bayi.

Terlepas dari kemampuan berbicaranya yang baru dan mobilitasnya, rata-rata balita beraktivitas seperti angin puyuh, dan semuanya adalah petualangan. Selama satu menit bayangkan seperti apa menjadi balita ... semuanya baru. Lemari dapur yang penuh dengan segala macam hal yang menarik, tombol-tombol pada VCR dan komputer ayah sangat menarik, bahkan sisa-sisa air di bak mandi saat airnya habis. Dan karena balita masih seperti bayi, hampir segala sesuatu terasa dan berbau. Balita adalah jiwa yang bebas. Mereka tidak tertarik berlatih ke toilet - mereka tidak terganggu sedikit pun dengan popok yang penuh. Dan lupakan kontrol diri, karena balita belum memiliki kesadaran diri. Oh, mereka dapat mendengarkan 'tidak' ketika ibu ada di sana. Tapi saat ibu berada di luar pandangan, balita melakukan apa yang mereka ingin lakukan. Mereka melakukan kegiatan dengan prinsip kesenangan: jika merasa baik dan sangat menyenangkan, mereka ingin melakukannya.

Mengetahui sedikit psikologi balita bisa mengubah tahap kehidupan yang penuh tantangan ini menjadi sebuah pengalaman yang indah. Berikut adalah beberapa tips untuk membantu Anda mengatur dan menghadapi balita Anda:

Sikap yang Tepat

Sangat membantu memiliki sikap yang tepat selama tahap perkembangan ini. Selama tahap ini, kreativitas, imajinasi dan rasa ingin tahu sedang lahir, dan Anda perlu memahami bahwa anak Anda tidak nakal saat ia menjelajahi dunianya. Tiba-tiba, ia bukan anak kecil lagi dan seluruh dunia ini terbuka untuk dirinya. Hal ini sangat menarik bagi seorang anak, karena ia nyaris tanpa pengendalian diri dan tidak dapat menghadapi setiap frustrasi.

Batasi Kata 'Tidak'

Pada tahap ini sangat mudah untuk membanjiri anak Anda dengan satu ton kata 'tidak', karena balita selalu terlibat dalam masalah. Tetapi jika orangtua bersikap seperti itu, seorang anak segera belajar untuk mengabaikan semua kata 'tidak'. " Jadi sangat bijaksana untuk membatasi kata 'tidak' untuk hal-hal yang penting dalam kehidupan balita. Untuk membatasi kata 'tidak', tingkatkan keselamatan anak di rumah. Sebagai contoh, tutup outlet listrik, simpanlah peralatan kebersihan di luar jangkauan anak, mengikat bersama-sama tombol-tombol di lemari stereo, jauhkan patung porselen mahal dari pinggir meja, tempatkan tanaman di ruangan lain sehingga tanah tidak termakan atau menyebar ke seluruh rumah, menutup ujung tajam meja kopi Anda dengan busa, dan mengunci pintu ruang bawah tanah sehingga anak tidak jatuh saat menuruni tangga. Semakin Anda dapat menjaga keselamatan anak di rumah Anda, Anda dan anak Anda akan menjadi semakin bahagia. Saya juga menemukan bahwa penggunaan gerbang sangat membantu keselamatan anak di rumah.

Milikilah Harapan yang Logis

Dari waktu ke waktu, saya melihat orangtua berharap terlalu banyak dari balita dan kemudian muncul hukuman ketika anak mereka tidak bisa memenuhinya. Jangan memukul, menampar tangan, atau mencuci mulut anak Anda dengan sabun atau memberi lada di lidahnya dan mengunci dirinya di dalam kamar. Dan ingat, ketika anak Anda tersenyum ketika Anda sedang memarahi dia, dia tidak sedang menentang Anda: anak Anda akan berpikir bahwa Anda sedang bermain dengan dia.

Hindari Menitipkan Anak Terlalu Lama

Jika mungkin, hindari menitipkan anak 11 jam sehari, lima hari dalam seminggu di penitipan anak. Batita butuh ikatan dengan orangtuanya dan ingin dipuja selama tahap ini untuk pertumbuhannya ... pekerja penitipan anak tidak akan memuja anak Anda dan terbatas hanya mengerjakan kewajibannya. Saya menyadari bahwa beberapa keluarga memiliki sedikit pilihan, tetapi lakukan apa yang Anda bisa untuk menghindari anak Anda menghabiskan waktu 11-jam sehari jauh dari ibu dan ayah. Sebagai contoh, beberapa orangtua mengandalkan kerabat atau kakek-nenek untuk menjemput mereka dari tempat penitipan anak dan dengan demikian memperpendek waktu balita jauh dari keluarga.

Perbanyaklah Membaca Pada Tahap Perkembangan Ini

Saya tidak tahu mengapa, tetapi banyak orangtua menghindari membaca tentang balita dan remaja. Padahal ini adalah dua tahap yang paling sulit bagi orangtua, namun banyak orangtua memilih untuk mengabaikannya. Entah bagaimana, banyak orangtua berpikir pengetahuan dan keterampilan mengasuh anak telah dimiliki sejak lahir, dan tiba-tiba ketika Anda menjadi orang tua, Anda akan tahu apa yang harus dilakukan. Salah! Orangtua adalah equaliser besar. Tidak peduli apakah Anda direktur sebuah perusahaan atau pengemudi bis, kita semua harus belajar bagaimana menjadi orang tua dan apa yang diharapkan pada tahapan yang berbeda. Anda dapat mempelajari bagaimana melewati semua itu dengan baik, dan ini adalah tiga buku yang dapat membantu:
>
Making the Terrible two's Terrific, oleh John Rosemond.

What to Expect the Toddler Years, oleh Arlene Eisenberg, Heidi Murkoff & Sandee Hathaway.

Wimpy Parenting from Toddler to Teen, oleh Kenneth N. Condrell, Ph.D.

Sedikit psikologi balita dapat mengubah tahap kehidupan yang menantang ini menjadi sebuah pengalaman yang indah.


Kenneth N. Condrell, Ph.D.
Psikolog anak
dari www.fisher-price.com

Senin, 01 Februari 2010

Pengalaman masa kecil membentuk kepribadian saat dewasa


Judul di atas khususnya berlaku untuk saya. Saya anak bungsu dalam keluarga sehingga sedikit mendapat perlakuan khusus dari orang tua maupun kakak-kakak saya. Hal ini saya rasakan terutama untuk tugas sekolah. Saya paling tidak suka tugas keterampilan dan menggambar. Saya lebih memilih diberi PR matematika berlembar-lembar daripada harus mengerjakan tugas keterampilan membuat taplak dari kain perca ataupun melukis dengan cat air.
Jadi pada saat saya mendapat PR keterampilan saya akan menunda mengerjakannya sampai mepet sebelum dikumpulkan. Akhirnya karena tidak sampai hati maka kakak-kakak atau ibu saya akan ikut membantu mengerjakan, bahkan tidak jarang mereka yang mengerjakan sebagian besarnya dan saya hanya membantu.
Dari pengalaman itu maka saya seperti punya senjata untuk lolos dari tugas-tugas yang tidak saya senangi. Hal ini terus berlangsung sejak saya SD sampai kuliah. Bahkan juga terbawa hingga saya bekerja, saya jadi kurang disiplin dan bertanggung jawab.
Saya baru kena batunya setelah berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga. Karena tidak punya pembantu, maka semua pekerjaan di rumah harus saya kerjakan sendiri. Awalnya saya masih seperti dulu, bekerja sesuai mood saya. Jadi bisa dibayangkan betapa berantakannya rumah jika saya sedang tidak mood bekerja. Untungnya suami saya cukup sabar dan tidak banyak protes, paling air mukanya yang menunjukkan dia tidak senang. Lama-kelamaan apalagi setelah saya punya 2 orang putri, saya mulai berpikir bahwa sedikit demi sedikit saya harus mengubah sifat saya jika tidak ingin kedua putri saya mencontoh sifat saya itu. Maka saya mulai mengubah kebiasaan walaupun amat sangat tidak mudah. Sampai saat ini pun saya merasa belum terlalu banyak berubah, tapi saya memutuskan untuk tidak selalu membantu anak-anak saya dalam melakukan tugasnya meskipun itu berarti saya harus extra cerewet untuk mengingatkan mereka melakukan tugasnya.
So, mendidik anak itu memang harus berhati-hati karena apa yang kita lakukan hari ini akan membentuk perilaku mereka hingga dewasa nanti.